Nusantara Group

     Hara namanya, gadis berambut kecoklatan sebahu dan berkulit sawo matang. Gemarnya ialah berpetualang di hutan-hutan atau kebun di sekitar rumahnya, tak jarang dia dimarahi ibunya karena sering pulang terlalu sore. Memang, kegemarannya itu merupakan hal yang langka yang ada pada anak-anak zaman sekarang ini. Yang mana didominasi oleh gadget dan teknologi.

"Hara, kau kali ini ke hutan mana? Sudah tahu kau akan ada latihan silat malam ini. Harusnya kau istirahat!" Ucap ibu Hara ketika ia membuka pintu rumah kesayangannya.

    Hara hanya nyengir, "Maaf Bun, tadi Hara ada lihat anak sungai di hutan Utara, kebetulan bawa saringan ini, jadi sekalian cari udang deh. Kan, lumayan kalau digoreng." Ia menunjukkan keranjang kecil yang ia bawa. Tergeletak beberapa udang besar dan kecil di sana. Sang Bunda hanya menggeleng, kalau sudah begini, senang pula hati sang Bunda.

"Ya sudah, cepat mandi dan siap-siap latihan. Oh iya, bagaimana dengan lombamu kemarin itu? Kau sudah ada orang untuk jadi tim?" Tanya Bunda, teringat akan lomba unjuk bakat yang digelar sekolah anaknya itu.

" Orangnya sudah ada, hanya...ibu tahu sendirilah mereka. Belum ada yang mau mengalah. Jadi belum diputuskan mau tampil apa nanti." Jawab Hara, iapun bingung harus melatih apa, karena belum ditentukan akan menampilkan apa saat lomba nanti. "Tapi Bunda tenang saja, masih ada waktu 3 Minggu kok. Masih lama." Lanjut Hara menenangkan Bundanya.

"Hara, kalau memang tak bisa lagi didiskusikan, jangan dipaksakan ya. Kau bisa cari orang lain. Apalagi kalau tak sesuai bakat. Kan, ini unjuk bakat. Sayang kalau bakatmu terpendam." Nasihat bunda, bunda tahu betul siapa yang menjadi teman 1 tim anaknya itu. Termasuk anaknya, mereka semua keras kepala, ingin menunjukkan bakat masing-masing. Ia khawatir, ketika sudah dekat waktu tim anaknya malah bubar karena kunjung tak mendapat kesepakatan.

    Hara mengangkat jempolnya. Menandakan persetujuan pada Bundanya itu. Dalam hati, ia berdoa agar timnya segera mendapat titik temu agar tak terpecah nantinya. 

    Sepanjang latihannya, Hara masih memutar otak bagaimana caranya agar teman-temannya yakin untuk menampilkan Silat saja. Karena itulah bakat yang dapat Hara tunjukkan nanti. Ia tak bisa menari, menyanyi apa lagi, bisa-bisa pecah jendela kelas jika Hara bernyanyi. Besok, Hara akan mendiskusikannya lagi.

"Jadi, kita menampilkan apa?" Tanya Hara setelah temannya berkumpul

"Menyanyi sajalah, jadi paduan suara. Kalau nada tinggi itu serahkan saja padaku." Kata Seina, ia memang pandai bernyanyi. Beberapa piala sudah diraihnya.

    "Aish, kau tahulah suaraku bagaimana. Hancur nanti panggungnya. Menari sajalah, tak susah kok itu." Kata Kara, yang satu itu lembut sekali tubuhnya. Hara mengernyit, "Bisa hancur pulalah hasilnya. Kau tahu bagaimana kakunya tubuhku. Begini, kita tampilkan beberapa gerakan silat saja, gerakannya mudah kok, seperti senam. Tak butuh keterampilan." Usul Hara kemudian.

"Lalu bagaimana dengan beatbox?" Usul Ren, anak satu itu memang sangat terampil melakukan beatbox.

Hara memijit alisnya. Bagaimana bisa beatbox dipadukan dengan gerakan silat?

"Kita coba dahulu saja gerakannya. Bagian atraksi nanti aku saja." Ujar Hara berusaha memutuskan

"Loh, tidak bisa begitu dong. Bagaimana dengan bakat kami?" Protes Kara, "Kalau kita bisa belajar gerakan silat, kita juga bisa belajar gerakan tari. Nanti kupilihkan yang tidak susah gerakannya." Sambungnya. Kara yakin mereka akan menang jika menampilkan tarian pilihannya. Terbukti dengan beberapa piala yang telah diraihnya itu.

"Huh, daripada pusing mending Minggu depan lah." Kata Ren sambil garuk-garuk kepala. Ia juga heran, kenapa pula mereka jadi 1 kelompok. Sudah tahu punya bakat berbeda, hobi berbeda pula.

"Jangan dong! Kapan latihannya!" Kata Seina. 

"Sudah-sudah. Daripada pusing, gabung saja sekalian! Biar adil semuanya tampil." kata Hara. ia sudah pening dengan hal ini. tak disangka, ide asal ceplosnya itu disetujui oleh semuanya. wajar saja, semua bakat dan semua orang menjadi peran utama jiak semuanya ditampilkan.

"Boleh tuh, bagaimana cara menggabungkannya? Kan, bakat kita beda jauh?" Tanya Ren. Dia yang paling beda. "

"Kabaret saja. Tidak perlu terlalu menghafal teks, yang penting raut wajah santai seperti kita berbicara pada umumnya." Kata Hara setelah berpikir beberapa saat. Kata mengangguk, kemudian mengerutkan kening,"Bagaimana ceritanya agar bisa menampilkan semua bakat kita? Yang pasti, itu punya unsur gerakan tarian, nyanyian, dan bela diri." Kata Hara

"Nah, naskahnya serahkan padaku. Nanti kalian tinggal buat backsoundnya saja. Siapa yang bisa?" Jawab Kara, dia sudah ada rencana dengan naskahnya. 

Tak lama, Ren mengajukan diri. Semua anggota menerima keputusan tersebut. Maka, selesai pulalah masalah yang membuat Kara pusing tujuh keliling. 


Sepulang dari berdiskusi, dengan semangat Kara menyusun naskah hingga sedemikian rupa mereka ber 4 bisa menampilkan bakat. Setelah mengetik semuanya dengan rapi, Kara mengirimkannya ke Ren, sebelum akhirnya berdiskusi lagui di grup chat untuk menentukan waktu pembuatan backsound kabaret mereka. 3 orang lainnya pun telah mengetahui perannya masing-masing dalam naskah tersebut. Karena ini unjuk bakat dalam acara festival, maka muncullah ide untuk memasukkan unsur budaya lokal tempat mereka tinggal, yakni budaya Bangka.

Setelah berdiskusi, sepakatlah mereka untuk membuat latar suara besok sepulang sekolah di rumah Ren. 


Esoknya, Hara dan Seina telah berada di rumah Ren. Menunggu Kara yang tak kunjung datang. Seina sudah bersungut-sungut dan Ren entah sudah berapa kali berjalan bolak-balik di depan Hara. Menambah pening gadis itu. Berulangkali dia menelepon Kara, berulang kali pula tak terjawab dan muncul tulisan "memanggil" di gadgetnya. Seina yang telah lelah bersungut-sungut sekarang telah diam seraya menyantap ubi goreng yang dihidangkan Ibu Ren. Mengisi energi untuk kembali kesal. Ren pun sudah duduk sambil berfikir bagaimana caranya agar pembuatan backsound tetap berjalan tanpa adanya Kara. 

"Kara kemana sebenarnya? Jika ia pergi karena ada urusan, bukannya dia saja yang ada urusan hari ini. Aku juga membatalkan kepergian ku ke rumah nenek hari ini!" Kata Seina, energinya sudah kembali.


"Haduh, begini sajalah. Kita buat dulu ber 3. Nanti kalau Kara sudah ada barulah kita sisipkan suaranya. Bagaimana?" Tanya Hara pada Ren. Dialah yang bertanggung jawab atas pembuatan backsound mereka.

"Sebenarnya itu mungkin saja. Namun, berhubung Kara juga ambil bagian di puncak pertunjukan, agak rumit untuk kembali menyisipkan suaranya. Jika diwakilkan oleh Hara atau Seina, nanti Kara marah pula pada kita. Benar-benar merepotkan." Jawab Ren setelah berpikir.

"Padahal hanya sedikit. Tapi hanya dia yang bisa." Kata Hara kecewa.


"Sudah, kita buat saja dulu sampai bagian yang tidak ada Kara. Daripada harus menunggu dia, akan buang-buang waktu saja jika dia benar-benar tak datang." Kata Seina. Dia paling kesal jika ada hal-hal tak sesuai perkiraan seperti ini.

Untungnya, kedua temannya itu setuju. Mereka sepakat agar tidak saling menyalahkan jika Kara tersinggung. Lalu, dimulailah perekaman suara yang sangat memerlukan kesabaran itu. 


"Indonesia adalah bangsa dengan beribu budaya." Ujar Ren, dia yang membuka pertunjukan

"Maka disinilah kami, dengan berbagai potensi ber beda, kami..."


Ting Ting tingg


"Bakso ...bakso...."

"Haahahahahha" tawa Ren dan Seina. Kalimat kedua adalah bagian Hara, tak sangka, tukang bakso lewat tepat disaat momen Hara merasa keren atas ucapannya.

"Sabar Hara, ini hanya permulaan. Pasti ada lebih banyak cobaan nantinya." Kata Seina menyabarkan Hara yang telah kusut wajahnya.


"Okey, santai. Mari kita ulang. Ren, siap?"

"Siap!"

"Maka disinilah kami, dengan..."

Kukuruyuuuukk

Mereka terdiam, Seina masih tersenyum. Ren sebagai fotografer sudah mulai mengernyitkan dahi.


"Maka, disinalh kami, dengan berbagai potensi berbeda. Kami, putra dan putri Indonesia...."

Miaaawww rawwrr

"Ya Tuhan!" Hara geram,"Kucing siapa sih?!" Seina sudah merengut tak suka. 

"Lelah diri ini." Kata Ren yang memegang kamera. Dan ini hanyalah kalimat awal, masih banyak kalimat yang harus dimasukkan. Jelas, dialahbyang paling lelha di proses ini.

Mereka dengan sabar sedikit demi sedikit merekam suara, walaupun keadaan tak berbeda jauh dengan sebelum sebelumnya. Sedikit-sedikit salah. Atau, ada suara-suara yang mengganggu.

Dengan wajah lelah dan lega, akhirnya mereka menyelesaikan bagian mereka semua. Hanya tinggal Kara seorang yang belum menyumbang suara. Lebih lagi, suaranya sangat penting hingga tak bisa dihilangkan, lebih tepatnya, suara semua orang sangat penting.

Esoknya, dengan menggebu-gebu Seina menghampiri sosok yang membuat mereka kesal kemarin. Kara.


"Kara! Kau kemana saja kemarin? Kami menunggumu tahu?!" Kata Seina dengan wajah yang tak sedap dipandang. Hara yang melihat itu langsung menghampiri keduanya, takut bentrokan mereka semakin dalam.

"Sudah Seina, kita kan sudah sepaket untuk membicarakan ini baik-baik." Kata Hara,"Ayo kita bicarakan di kelas saja. Tidak enak dipandang jika ditengah jalan begini." 

Sesampainya di kelas. Hara bertanya dengan nada biasa. Alasan mengapa Kara tak datang kemarin. 

"Maaf ya teman-teman. Karena aku perekaman suara kita jadi batal kemarin. Nenekku tiba-tiba masuk rumah sakit kemarin. Aku yang panik langsng ke rumah sakit tanpa membawa handphone ku." Kata Kara menjelaskan 

"Iya tidak apa. Lagipula itu tidak dibatalkan, kami tetap merekam kok kemarin." Kata Seina

"Loh? Kalian mereka tanpa aku? Kalian tidak menganggap aku tim kalian ya?" Ucap Kara dengan wajah marah. Dia merasa dikhianati oleh timnya. Bisa-bisnaha mereka memulai mereka suara tanpa dia. Jadi, nanti suaranya tak akan ada di dalam rekaman?

"Bukan begitu Kara. Kalau kami mati-matian menunggumu, rekaman kita dikhawatirkan tidak akan selesai. Jadi, kemarin kami sepakat untuk mulai duluan. Nanti suramu Ren rekam juga kok." Jelas Hara, dia sudah mempersiapkan situasi ini. Akan runyam jika Kara merajuk.

"Kalian kalau tidak mau menampilkan tarian bilang saja. Tak usah begini."

"Heh, kau ini kenapa sih? Sudah dibilang kau juga akan direkam. Kau kemarin tak datang tanpa kabar, membuat kami membuang waktu lama. Haruskah kami tak jadi rekaman hanya karena kau yang tak jelas kabarnya?" Seina emosi, kesal sekali dia dengan kelakuan Kara. Teman kelas yang lainpun sudah menengok ke arah mereka.

"Ya aku tahu aku salah. Tapi kan kalian bisa besok-besok saja merekamnya. Kalian tega sekali merekam tanpa aku." Kata Kara, suaranya merendah beberapa oktaf 

"Sudah-sudah, hari ini kita ke rumah Ren lagi. Menyelesaikan bagianmu dan beberapa tambahan kreasi Ren. Langsung saja ya kita ke rumah Ren. Kau tak apa Kara?" Kata Hara menengahi. Untungnya, adu mulut berhenti sampai di situ saja. Kara mengangguk tanda setuju.

Karena tak ada masalah lagi setelahnya, dan merekapun merekam dengan lebih lancar hari ini. Waktu mereka untuk latihan lumayan banyak. Dengan semangat 45 mereka sepakat untuk berlatih kapanpun saat mereka punya waktu. Beberapa gerakan sulit tak membuat mereka menyerah untuk menampilkannya. Karena keberagaman itulah yang membuat mereka terinspirasi untuk lagi dan lagi menemukan cara agar bisa membuat penampilan berbeda dari yang lain. Membuat semacam keserasian diantara banyak jenis budaya yang mereka tampilkan.

Hari demi hari yang Dipenuhi latihan telah berlalu. Berbagai macam cara pribadi yang telah mereka terapkan untuk bisa menampilkan yang terbaik sudah menunjukkan hasilnya. Hari ini adalah hari terakhir latihan mereka, karena besok lusa sudah akan tampil. Mereka sudah semakin sinkron dan serasi, saling mengenal bakat masing-masing dan musik yang mereka gunakan sudah hafal saking seringnya mereka latihan dan mendiskusikannya bersama. Hara merasa bahkan tanpa musik mereka masih bisa tampil dengan irama yang sama.

"Setelah ini, istirahat saja. Minum vitamin, atau apapun yang membuat kalian nyaman. Jangan makan yang aneh-aneh, atau pergi ke tempat-tempat yang berbahaya." Kata Ren sambil melihat Hara, gadis itu cengengesan karena dialah yang disindir suka pergi ke tempat berbahaya. Hutan. 

"Siap bos." 

Gugup tak kuasa diusir Kara, mimpi telah tampilpun telah terpatri di mimpi Seina, bahkan Ren juga mengigau menyanyikan beatbox dan rap yang dihapalnya. Hara seperti bertanding sungguhan dalam mimpinya. Esok semua orang menunjukkan usaha terbaik mereka. Hasil latihan selama ini tak bisa menjadi sia-sia. Tak lupa pula, doa selalu mereka panjatkan pada Tuhan yang maha kuasa.

Hari ini mereka berkumpul, saLing menghilangkan rasa gugup. Seina berusaha melucu agar menghilangkan kegugupannya. Ren mesih merapal lirik Rap nya walaupun dia sudah hafal.


"Ayo, kita pasti bisa!" 

"Jangan gugup, anggap saja latihan. Juga jangan lalai."

"Jangan buat latihan kita sia-sia."

"Kita tunjukkan, walaupun kita sepenuhnya berbeda, kita bisa!"

"Kepada kelompok pentas selanjutnya, silahkan tampil."

Mereka ber 4 memasuki area tampil. Siap sepenuhnya untuk menampilkan bakat mereka. Senyum telah terbit, posisi mereka sudah siap. Dan,


Jrenggggg

Musik dimulai


"Indonesia adalah bangsa dengan beribu budaya." Suara Ren yang telah mereka dengar berulang kali. Bahkan mereka bisa mendengar suara itu lebih dahulu di dalam hati dan pikiran mereka.

Pentas mereka dimulai. Pembukaan dialog oleh Ren, Seina, Hara, dan Kara sukses membuat penonton fokus untuk menonton penampilan mereka. 


"Tarian lagi?"

"Ah, menurutku itu bukan hanya tarian."

"Hei, mereka sedikit berbeda."

"Eh, lihat-lihat."

"Oh ternyata Kabaret. Kukira apa, sama saja."


Komentar penonton yang kadang membuat mereka ingin menurunkan senyum tak urung membuat mereka murung. Mereka fokus terhadap persiapan adegan berikutnya.

"Miyak, ayo ke kebun." Itu Seina yang berperan sebagai ibu dari karakter Miyak. Istilah untuk anak gadis dalam bahasa Bangka.

"Iya Mak. Tunggu sebentar." Ujar Kara yang berperan sebagai anak dari karakter Mak,  istilah Ibu dalam bahasa Bangka.


Lalu adegan demi adegan ditampilkan, bercerita tentang betapa gembiranya panen tahun itu. Pada adegan memetik sahang, dengan posisi yang telah ditentukan. Mereka bersiap memulai kombinasi drama dan tarian serta dipadukan dengan Rap dari Ren. 


"Ayo Seina, sehabis ini adalah bagian inti. Setelah ini, selesai pertunjukannya." Kata Seina dalam hati. Menyemangati dirinya sendiri. 

"Loh, kok lagunya tak kunjung mulai? Harusnya sudah mulai." Kara mengerutkan kening. Dia melihat ke arah operator yang panik menekan beberapa tombol. Ia paham, ada kesalahan. 


"Seina, ada masalah. Bagaimana ini?" Bisik Kara yang memang posisinya dekat dengat Seina saat ini.

Seina mulai memutar otaknya agar bisa menemukan cara menutupi kesalahan teknis ini. Ia mengkoda Ren, yang paling dekat dengan meja  tempat ditaruhnya alat elektronik yang umumnya dipakai, termasuk mikrofon. Dengan cepat Ren sadar dan langsung mengambil mikrofon dengan beberapa gerakan hingga seperti sengaja ada gerakan seperti itu. Ia berputar beberapa kali hingga tepat menyodorkan mikrofon kepada Seina. Ia tahu Seina akan bernyanyi. 


"Ooooi, merahnyaa~~" ia mulai hingga seperti ia bersenandung betulan. Tak seperti stagnan karena kesalahan teknis. Hara melihat ke arah operator, menggeleng sedikit agar mereka tidak menyalakan kembali apabila memang sudah bisa dinyalakan. Dari sekarang, mereka akan sepenuhnya bermain lakon tanpa musik buatan, tetapi musik alami dari mereka sendiri.

"Men Sahang Sahang lah mulai Mirah~"

Kara memakai selendangnya, berlagak memeragakan lagu tersebut. Sembari mengisi suara selingan di antara suara merdu Seina. Ren pun sesekali melengkapi dengan suara musik pengiring yang ditirunya dengan lihai. Penonton berdecak kagum, para juripun menganggukkan kepalanya, sebagian bertepuk tangan. Untungnya, Hara bisa 1 atau 2 gerakan tari sebagai pengiring Kara. Saat itu, sama sekali tidak kepikiran akan ada kesalahan teknis hingga mereka merekayasa semuanya. Tetapi alur pertunjukan tetap seperti mereka latihan. Hanya saja ada sdikit tambahan musik manual dari mereka ber 4 yang membuat penonton kagum.


"Tingok betingok janji bejanji, kelak pulang bedue~"(saling melihat saling berjanji kelak pulang berdua) di lirik itu, Ren memutar Seina sedemikian rupa hingga posisi mereka kembali berubah, tak sampai disitu, Kara yang menari sebelumnya kembali menyambut uluran mikrofon dari Seina. Ia melanjutkan lagu selanjutnya. Sedikit, namun itulah pembuka bagi pertunjukan inti mereka selanjutnya.


"OoOi.~"

"OoOi, Bangka Belitung bebagai macem adat budaya~" alunan lembut suara Kara yang Seina pun terkejut dibuatnya. Sebab lagu itu sedikit bercengkoo nadanya. 

"Beuh gila penampilan kali ini keren sekali."

"Aku bahkan tak bisa menembak selanjutnya akan ada apa."

"Semakin membuatku penasaran."

"Benar benar berbeda kali ini."


"OooOi." Kata Kara sambil melenggokkan badannya ke arah Ren

"OoOi." Kembali Kara melenggokkan badannya ke arah Hara, ia mengedipkan matanya. Hara mengerti. Gilirannya kali ini. Sekarang ada 2 mikrofon, satu pada Kara, satu pada Ren. Baru saja Ren mengambilnya.

"Bangka Belitung dengan berbagai budaya. Membuat semua merasa terpesona."

"OoOi." Kembali pada nada awal

"Oi." Ren menegaskan 

"Oi." Kembali Kara menegaskan, membantu Hara mempersiapkan gerakan berikutnya.


"Hyaaaa."

Brakkk


Hening, Ren dan Kara sengaja diam saat ini. Membiarkan penonton fokus pada Hara. Kemudian, melihat adegan yang menurutnya pas, Ren kembali mengiringi gerakan Hara dengan lirik Rapnya.

"Inilah kami pemuda Indonesia, melestarikan ragam budaya Indonesia. Silat Tari bahkan juga menari, tak lupa juga moderenisasi."

"Hiyat!" Hara telah menunjukkan gerakan akrobatik khas Silatnya, diiringi Rap oleh Ren dan tarian Kara di samping Hara, sementara Seina Kembali melengkapi musik Musikan yang dibuat Ren dengan suara merdunya setelah mengambil alih mikrofon di tangan Kara.

WOWW

"Gila mereka keren sekali!"

Kemudian sebagai penutup Seina menyanyikan lagu janger janger diiringi tari Kara dan gerakan Hara yang melingkar. Ren juga belajar 1 2 gerakan untuk mengintregasikan bakat mereka agar menjadi 1 kesatuan. Di akhir mereka kembali berakrobat. Kara naik ke kaki Hara yang sudah kuda-kuda. Dan Seina naik ke kaki Ren yang juga sudah diajarkan Hara kuda-kuda. Mereka berdua bertumpu di tengah. Kemudian berpose dengan gaya bakat khas masing masing. 

Suara tepuk tangan menggema lebih lama kali ini. Ada yang berteriak-teriak memuji mereka. Para pemandu sorak pun tak kalah riuh menyaksikan kombinasi mereka ber 4. Semua orang tak menyangka mereka bisa menyatukan 4 macam pertunjukan berbeda. 

Mereka saling berpelukan, Seina bahkan meneteskan air mata haru. Mereka masih di panggung. 

"Guys, kalian luar biasa." Kata Ren tersenyum.

"Bukan, kita semua yang luar biasa." Kata Hara.

"Pokoknya, kita semua keren sekali. Aku sampai tak menyangka akan bernyanyi juga tadi. Haha." Sahut Kara, ikut-ikutan tak menyangka.

Juri juga ikut berdiri bertepuk tangan mengapresiasi mereka. Para talenta yang berkreasi dengan berbeda dengan peserta yang lain. Ide yang sama sekali baru. 

"Wah, wah, wah. Luar biasa sekali kalian ini. Kalau boleh tahu, bagaimana kalian bisa mempunyai ide unik seperti itu? Di saat kelompok lain mungkin akan berpisah menunjukkan bakatnya masing-masing, kalian justru menyatukannya. Saling melengkapi." Salah satu juri bertanya.

"Sebelumnya terimakasih para juri telah mengapresiasi kami. Jadi, pada awalnya seperti yang kalian lihat. Dengan bakat kami yang begitu berbeda, mustahil tak ada pertikaian di antara kami." Jawab Seina, ia yang dulu paling marah atas ketiadaan kabar dari Kara.

"Tapi, justru dari itu kami mendapatkan ide untuk menyatukan semuanya dalam satu pertunjukan. Agar sama dapat, sama rasa." Sambung Ren

"Lagipula, kami sadar. Jika kami bahkan tak bisa menyatukan 4 pertunjukan ini, bagaimana Indonesia yang memiliki banyak perbedaan dari Sabang sampai Merauke bisa bersatu jika kita egois hanya menampilkan 1 bakat saja." Kata Kara, ia teringat bagaimana ngotot nya dia kala mengusulkan untuk menampilkan tarian saja.

"Jadi, keberagaman kami

"Jadi, keberagaman kami ini memang piasu bermata 2. Jika kami tak kuasa mempersatukannya. Kami mungkin tak tampil hari ini. Tapi inilah akhirnya, keberagaman kami justru menginspirasi untuk menampilkan apa yang belum pernah ditampilkan peserta lain."ucap Hara

Juri kembali bertepuk tangan, kagum. Peserta kali ini telah sepenuhnya menerapkan ide-ide yang mereka inginkan sejak awal. Karena itulah peraturannya harus berkelompok. Bukan diperuntukkan untuk seni berkelompok. Tapi bagaimana cara peserta agar bisa menampilkan hal yang baru dengan satu kesatuan tinggi. Sampai dengan penampilan kelompok Hara dan kawan-kawan, para juri belum mendapatkan makna sesungguhnya dari perlombaan ini. Kali ini, kelompok yang satu ini pasti akan menang.

Akhirnya, selesai sudah perjuangan mereka untuk penampilan kali ini. Mereka ber 4 menjadi lebih solid dan akrab. Mereka kompak menunggu pengumuman sore ini. Dan benar, mereka memenangkan tempat pertama. Penampilan paling unik dan mencengangkan sepanjang perlombaan berlangsung. Mereka bersorak senang. 

"Aku tak menyangka sama sekali Rap dan beatbox bisa dipadukan dengan tari dan silat. Hei, kalau dipikir-pikir, itu meramput sekali. Haha." Kata Ren geli hati. Baru dia sadari kejanggalan itu.

"Kalau kau berpikir seperti itu, aneh semualah penampilan kita." Sahut Seina.

"Ssset. Bukan aneh, tapi unik." Kata Kara 

"Hahahaa."


Mereka tertawa bahagia bersama. Ada yang memegang piala, ada yang mengajak berswafoto. Yang jelas, sore itu mereka sadar, bahwa keberagaman bukanlah alasan mereka untuk berpisah, tapi keberagaman adalah alasan kita untuk tetap bersatu padu tanpa saling menjatuhkan, saling membantu dan berpegang erat, dan saling menginspirasi satu sama lain.












Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lucid Dream Zeline: 1. Keluarga Aristrokat dan Gang Misterius